JEMBER, iNewsBondowoso.id - Politeknik Negeri Jember (Polije) mendorong santriwati Pondok Pesantren Putri Hujjatul Islam mengembangkan jiwa kewirausahaan. Polije menggunakan pelatihan hidroponik sistem wick sebagai sarana pengembangan keterampilan Santripreneur.
Kegiatan tersebut berlangsung di Desa Arjasa, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember melalui program Pengabdian kepada Masyarakat PNBP. Tim pelaksana terdiri atas Ida Adha Anrosana, Retno Sari Mahanani, Taufik Hidayat, Andarulla Galushasti, dan Estin Roso Pristiwaningsih.
Program tersebut berangkat dari kebutuhan pesantren dalam menumbuhkan jiwa wirausaha santriwati. Kegiatan ini juga memberikan bekal keterampilan yang dapat dikembangkan menjadi peluang usaha setelah lulus.
Andarulla Galushasti menyampaikan bahwa tim PkM menawarkan pelatihan kewirausahaan melalui budidaya hidroponik sistem wick. Kegiatan tersebut menjadi upaya membuka wawasan wirausaha santriwati dalam bidang pertanian.
“Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan, maka kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan mengatasi permasalahan yang dihadapi mitra pondok pesantren Hujjatul Islam Putri Desa Arjasa dengan menawarkan suatu bentuk pelatihan kewirausahaan bagi santriwati (Santripreneur) melalui pelatihan usaha budidaya tanaman hidroponik sistem wick sebagai upaya membuka wawasan wirausaha santriwati dalam bidang pertanian,” ujar Andarulla.
Retno Sari Mahanani kemudian menjelaskan manfaat hidroponik sistem wick bagi santriwati. Sistem tersebut dapat mengoptimalkan lahan sekaligus menjadi alternatif usaha yang menghasilkan keuntungan.
“Budidaya tanaman hidroponik sistem wick tidak hanya mengoptimalkan pemanfaatan lahan akan tetapi juga dapat dijadikan sebagai alternatif suatu usaha yang dapat menghasilkan keuntungan,” terang Retno.
Sementara itu, Taufik Hidayat menjelaskan keunggulan sistem wick bagi pemula. Ia menilai sistem tersebut sesuai bagi santriwati yang baru mengenal budidaya hidroponik.
“Hidroponik sistem wick atau yang juga dikenal sebagai hidroponik sistem sumbu sangat sesuai diterapkan pada santriwati yang baru memulai budidaya tanaman dengan sistem hidroponik, karena sistem ini merupakan sistem hidroponik yang paling sederhana sehingga sangat mudah dilakukan oleh pemula,” jelas Taufik.
Santriwati mengikuti pelatihan dan pendampingan pemeliharaan tanaman hidroponik dengan antusias. Mereka juga kreatif memanfaatkan barang sekitar pesantren sebagai wadah dan media budidaya.
Estin Roso Pristiwaningsih melihat semangat santriwati dalam menerapkan inovasi yang mereka pelajari. Respons tersebut terlihat selama proses pelatihan dan pendampingan berlangsung.
“Kami juga melihat semangat santriwati untuk menerapkan inovasi yang dipelajari,” pungkas Estin.
Editor : Riski Amirul Ahmad
Artikel Terkait
