Polije Perkuat Kemandirian Desa Karangpring melalui Agroindustri Kopi dan Mawar

Bambang Sugiarto
Polije Perkuat Kemandirian Desa Karangpring melalui Agroindustri Kopi dan Mawar (Pict: Ist)

JEMBER, iNewsBondowoso.id – Politeknik Negeri Jember (Polije) mendorong penguatan ekonomi Desa Karangpring, Kecamatan Sukorambi, Kabupaten Jember, melalui pengembangan agroindustri kopi dan mawar berbasis ekonomi sirkular.

Program tersebut dijalankan melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Bina Desa Tahun 2026 bertajuk “Penguatan Kemandirian Desa Karangpring Kabupaten Jember melalui Integrasi Pengembangan Agroindustri Kopi dan Mawar Berbasis Ekonomi Sirkular.”

Program ini didanai oleh Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun Anggaran 2026. Pelaksanaannya berdasarkan Kontrak Induk Nomor 114/C3/DT.05.00/PM/2026 dan Kontrak Turunan Nomor 04131/DST/PL17.4/DT.06.01/2026.

Kegiatan melibatkan Kelompok Tani Puncak yang dipimpin Nurul Hasan dan Kelompok Wanita Tani (KWT) Nawasena yang dipimpin Yuliati Widi Astuti.

Ketua pelaksana, Dwi Putro Sarwo Setyohadi, S.Kom., M.Kom., mengatakan program tersebut mengintegrasikan pengembangan kopi dan mawar untuk meningkatkan nilai tambah potensi lokal.

"Melalui program ini, kami tidak hanya mengenalkan teknologi, tetapi juga mendorong masyarakat agar mampu mengolah potensi lokal menjadi produk bernilai ekonomi," ujar Dwi Putro.

Pada sektor kopi, tim Polije membantu kelompok tani memperbaiki proses budidaya dan pascapanen. Tim menerapkan Good Agricultural Practices (GAP) dan Good Handling Practices (GHP), sekaligus memperkenalkan mesin pulper dan huller.

Penggunaan teknologi tersebut membantu meningkatkan efisiensi pengolahan serta menekan tingkat cacat biji kopi hingga di bawah 11 persen. Tim juga menerapkan SOP roasting dan grinding untuk menjaga konsistensi mutu dan memperkuat cita rasa kopi khas Karangpring.

"Harapannya, kopi Karangpring tidak hanya dijual sebagai bahan mentah. Kelompok tani harus mampu menghasilkan produk dengan mutu yang konsisten dan memiliki identitas sendiri," katanya.

Sementara itu, tim juga mendampingi KWT Nawasena dalam mengembangkan produk olahan bunga mawar. Sebelumnya, masyarakat lebih banyak menjual mawar sebagai bunga tabur atau mengolahnya menjadi produk sederhana.

Melalui program tersebut, Polije memperkenalkan teknologi destilasi skala kelompok untuk menghasilkan minyak atsiri mawar. Produk tersebut selanjutnya dapat dikembangkan menjadi produk aromatik bernilai ekonomi, salah satunya reed diffuser.

Ketua KWT Nawasena, Yuliati Widi Astuti, menyambut baik pendampingan tersebut. Menurutnya, pengembangan teknologi pengolahan membuka peluang baru bagi kelompok untuk meningkatkan nilai jual komoditas mawar.

"Kami berharap pendampingan ini dapat membantu kami mengembangkan mawar menjadi produk yang lebih beragam dan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi," ujar Yuliati.

Program ini dirancang melalui roadmap tiga tahun. Tahun pertama berfokus pada penguatan produksi, perbaikan pascapanen, peningkatan kapasitas kelompok, dan penerapan teknologi tepat guna.

Tahun kedua diarahkan pada diversifikasi produk, seperti kopi instan dan reed diffuser, serta penguatan branding dan kemasan. Selanjutnya, tahun ketiga akan berfokus pada legalitas dan sertifikasi produk, perluasan pemasaran digital, serta penguatan kemandirian kelembagaan kelompok.

Ketua Kelompok Tani Puncak, Nurul Hasan, menilai pendampingan tersebut memberikan peluang bagi petani untuk meningkatkan nilai tambah kopi yang selama ini dihasilkan.

"Selama ini kami lebih banyak fokus pada produksi bahan baku. Dengan adanya pendampingan dan teknologi dari Polije, kami berharap bisa meningkatkan kualitas sekaligus mengembangkan produk kopi Karangpring," kata Nurul Hasan.

Dwi Putro menambahkan, pendekatan ekonomi sirkular menjadi bagian penting dalam program tersebut. Polije mendorong masyarakat agar tidak berhenti pada produksi bahan mentah, tetapi mampu mengembangkan proses pengolahan, pengemasan, branding, hingga pemasaran.

"Kami ingin membangun rantai nilai yang lebih panjang di desa. Dengan begitu, nilai ekonomi dari kopi dan mawar dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat Karangpring," pungkasnya.

Melalui kolaborasi Polije, Kelompok Tani Puncak, dan KWT Nawasena, Desa Karangpring diharapkan berkembang menjadi desa yang mandiri, produktif, dan memiliki daya saing melalui pengembangan agroindustri berbasis potensi lokal.

Editor : Riski Amirul Ahmad

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network