BONDOWOSO, INewsBondowoso.id - Merayakan Kemerdekaan Republik Indonesia ke - 81 Tahun, masyarakat di Kecamatan Wringin menggelar pertunjukan budaya Karapan Sapi.
Pertunjukan budaya ini kembali diselenggarakan hingga membuat antusiasme masyarakat sangat tinggi hingga ribuan warga memadati lokasi pertunjukan di Lapangan Kecamatan Wringin.
Selain membawa misi pelestarian budaya, kegiatan ini bertujuan memutar roda perekonomian masyarakat.
Camat Wringin, Misyono, menyampaikan bahwa pihaknya ingin kembali menghidupkan tradisi tersebut agar tetap lestari sebagai khazanah bangsa.
"Budaya Karapan Sapi adalah tradisi yang sangat menarik, utamanya dalam menghadapi musim tanam," jelasnya.
Budaya Karapan Sapi ini sejak dulu dilaksanakan secara turun-temurun oleh warga Kecamatan Wringin.
Tradisi ini biasanya digelar sebagai ritual meminta hujan dan menggemburkan tanah sawah menjelang musim tanam.
Total ada 13 komunitas Karapan Sapi dari Desa Banyuwulu dan Desa Gubrih yang ikut serta. Masing-masing peserta membawa dua ekor sapi pedet jantan.
Sapi-sapi tersebut dirias menggunakan pelbagai atribut berwarna-warni, kemudian diikat pada pangonong, yaitu sebatang kayu melintang yang diletakkan di atas leher sepasang sapi.
Alat ini berfungsi menyatukan dan menyelaraskan gerak kedua sapi agar dapat berlari bersamaan. Pangonong tersebut dihubungkan ke kaleles, yakni kereta kayu kecil tempat joki berdiri mengendalikan laju sapi.
Saat pertunjukan dimulai, musik saronen mengiringi joki yang berusaha menyelaraskan gerakan sapi di tengah kecepatan. Sapi-sapi ini beradu cepat di lintasan sepanjang sekitar 80 meter.
Partisipasi ini lahir dari semangat warga yang ingin membangkitkan kembali gairah budaya daerah.
Editor : Riski Amirul Ahmad
Artikel Terkait
