BONDOWOSO, iNewsBondwoso.id – Komoditas mangga di wilayah pedesaan menyimpan potensi besar sebagai produk unggulan hortikultura. Petani kini mulai menerapkan pendekatan Good Agricultural Practices (GAP) untuk meningkatkan mutu dan daya saing pasar.
Penerapan budidaya berbasis standar GAP ini berlangsung di Kelompok Wanita Tani (KWT) Manggis 4 Kabupaten Bondowoso. Kegiatan pengabdian masyarakat ini menerapkan skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat ruang lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat.
Program ini memperoleh pendanaan penuh dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Tiga pengabdian, yaitu Dian Galuh Pratita, Huda Oktafa, dan Anggita Rizky Fadilah, mendampingi para petani secara intensif. Mereka membimbing proses dari persiapan lahan hingga penanganan pascapanen.
Pendampingan ini fokus pada peningkatan kapasitas teknis serta pemahaman manajemen budidaya para anggota kelompok. Petani mempelajari teknik pemangkasan, pemupukan berimbang, pengendalian hama terpadu, hingga sanitasi kebun.
"Penerapan GAP mendorong perubahan pola budidaya menuju sistem pertanian yang lebih terstandar dan efisien," ujar Dian Galuh Pratita.
Ia memimpin kegiatan pengabdian ini bersama para anggota tim secara berkesinambungan. Mereka juga melatih petani melakukan pencatatan kegiatan budidaya secara teratur di lapangan.
Pencatatan ini menjadi bagian penting dari GAP untuk memantau serta mengukur kualitas produksi tanaman. Dengan dokumentasi yang baik, petani dapat menjaga konsistensi mutu buah mangga sesuai kebutuhan pasar modern.
Selain peningkatan produktivitas, standar GAP juga memperhatikan keselamatan kerja serta kesejahteraan para petani. Pendekatan menyeluruh ini memberikan nilai tambah ekonomi yang lebih pasti bagi kelompok tani.
"Penerapan budidaya terstandar ini merupakan investasi jangka panjang untuk meraih kepercayaan pasar secara berkelanjutan," tambah Dian Galuh Pratita.
Para anggota KWT Manggis 4 mengikuti seluruh rangkaian pelatihan teknis dengan antusias tinggi. Mereka siap menerapkan ilmu baru tersebut untuk mengelola kebun mangga secara lebih profesional.
Sinergi antara kelembagaan kelompok tani dan teknologi lokal ini memperkuat posisi mangga sebagai komoditas unggulan daerah. Langkah ini membuktikan bahwa petani desa mampu menghasilkan produk bernilai jual tinggi.
Editor : Riski Amirul Ahmad
Artikel Terkait
