BONDOWOSO, INewsBondowoso.id - Beragam kreativitas bisa dilakukan oleh siapapun. Di Bondowoso sejumlah penyandang disabilitas mengikuti kegiatan membatik dan membuat odeng.
Ajang kreativitas ini digelar Sanggar batik Tegar milik Halifah (46) yang berada di Desa Karanganyar, Kecamatan Tegalampel. Rumah kreatif tersebut telah lama melaksanakan pelatihan membatik secara gratis bagi penyandang disabilitas.
Untuk pembuatan batik mereka diajari dengan cara printing dan mencanting motif batik Sanggar Tegar.
Dalam mengajari semua keterampilan ini memang tak mudah. Karena keterbatasan para peserta. Namun Ifah bersyukur para peserta ini semangat dan selalu aktif mengikuti arahan darinya.
" Alhamdulillah semangat mereka luar biasa, bahkan melebihi manusia normal lainnya," ucap Ifah.
Inisiatif pelatihan secara mandiri bertujuan agar para penyandang disabilitas memiliki keterampilan yang bisa dilakukan di rumah.
Kebanyakan para penyandang disabilitas yang sudah terampil membuat batik dan odeng ini dipekerjakan olehnya. Yakni, setiap pesanan batik atau pun odeng akan langsung dilempar untuk dikerjakan oleh penyandang disabilitas di rumahnya.
"Kemarin ada 16 orang belajar mencanting, yang bisa dipekerjakan ada 7. Selebihnya kita cari cara lagi, yakni diajari buat Odeng," tuturnya.
Hasil karya penyandang disabilitas ini, kata Ifah sudah ada yang dipesan oleh beberapa instansi di Bondowoso. Pihaknya berharap produk-produk penyandang disabilitas bisa tembus luar kota.
Harga Odeng buatan penyandang disabilitas ini beragam. Ada yang Rp 45 ribu hingga Rp 60 ribu.
Fathorozi, Ketua Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Bondowoso, mengatakan, pertama kalinya penyandang disabilitas bisa membuat odeng ini.
Kendati dirinya yang merupakan penyandang tuna daksa itu, mengakui kesulita belajar seperti merangkai kain, dan menjahit. Namun, karena ada instrukturnya jadi lebih mudah.
"Kesulitan memang ada bagi teman-teman, untuk merangkai. Tapi ada instrukturnya," pungkasnya.
Selain itu, Halifah sering patungan bersama pendamping penyandang disabilitas bernama Meri, untuk membeli segala bahan-bahan. Mulai dari kain, kompor dan gas untuk mencanting, lem untuk pembuatan odeng dan lainnya.
Sementara beberapa peralatan menjahit, Ifah telah memilikinya sendiri. Adapun untuk kain biasanya Ifah membeli kain perca dari penjahit di sekitar.
Editor : Riski Amirul Ahmad
Artikel Terkait