Ratapan dari Lereng Sanggar Bondowoso: Ibu Berpulang, Bayi Kembar Dea-Deo Mendamba Susu
BONDOWOSO, iNewsBondowoso.id — Dinginnya angin di Dusun Kobiung, Desa Pakisan, Kecamatan Tlogosari, Bondowoso, kini terasa menyayat dada. Di dalam sebuah rumah sederhana yang terletak 25 kilometer dari pusat kota itu, sepasang bayi kembar bernasib malang sedang berjuang bertahan hidup.
Mereka adalah Ananda Dea dan Ananda Deo. Bayi kembar yang masih merah ini terlahir ke dunia bukan didekap oleh kehangatan seorang ibu, melainkan langsung disambut duka yang pecah bergulung-gulung.
Kisah memilukan ini bermula 20 hari lalu di RSUD dr. H. Koesnadi Bondowoso. Dea dan Deo lahir prematur melalui operasi sesar.
Tubuh mereka sangat mungil dan rapuh. Bobot Dea hanya 1,2 kilogram, sedangkan kembarannya, Deo, hanya 1,4 kilogram.
Setelah empat hari dirawat, sang ibunda, Qinanah, sempat diperbolehkan pulang bersama kedua buah hatinya. Namun, kebahagiaan itu hanya berumur pendek.
Setibanya di rumah, tubuh Qinanah perlahan membengkak hebat. Seminggu kemudian, ia memaksakan diri kembali ke rumah sakit untuk kontrol pascamelahirkan.
Dokter menyatakan Qinanah mengalami komplikasi berat. Hanya empat hari setelah pemeriksaan itu, di rumahnya yang sunyi di lereng gunung, Qinanah mengembuskan napas terakhirnya.
Ia pergi selamanya sebelum sempat memberikan setetes pun ASI untuk kedua bayi kembarnya.
Kehilangan istri secara mendadak membuat sang suami, Jumali, runtuh seketika. Syok dan duka mendalam membuat kondisi fisiknya drop total hingga tensi darahnya anjlok ke angka ekstrem, 60 mmHg.
Hingga hari ini, Jumali masih harus menjalani rawat jalan dan belum bisa bekerja. Untuk sekadar berdiri tegak menimang bayinya pun tubuhnya terlalu lemah bergetar.
Kini, Dea dan Deo terpaksa dirawat oleh saudara almarhumah yang kondisinya juga serba kekurangan. Jangankan membeli susu, untuk alas tidur saja mereka tidak punya.
Keluarga yang kebingungan ini akhirnya nekat mengunggah pesan pilu di status WhatsApp. Mereka memohon bantuan kasur dan bantal bekas layak pakai demi alas tidur dua bayi yatim tersebut.
Jeritan senyap di status WhatsApp itulah yang kemudian mengetuk pintu kemanusiaan relawan GRIB Jaya Bondowoso.
Ketua DPC GRIB Jaya Bondowoso, Joni Ap, langsung mengutus tim Satgas untuk bergerak cepat menghimpun dan mengantarkan bantuan darurat ke lereng gunung, Selasa (7/7/2026).
Rombongan datang membawa paket perlengkapan bayi, baju layak, serta kaleng-kaleng susu formula untuk menyambung napas Dea dan Deo.
"Kami menangis melihat kondisi di lapangan. Kami mengetuk hati semua pihak dan berharap ada perhatian khusus yang mendesak dari pemerintah daerah," ujar Joni Ap dengan suara berat menahan air mata.
Saat matahari tenggelam di lereng Gunung Sanggar, suara tangis haus Dea dan Deo memecah keheningan malam. Menjadi pengingat bahwa ada nyawa bocah suci yang kini mendamba uluran tangan kita bersama.
Editor : Riski Amirul Ahmad