Lestarikan Tradisi Leluhur, Warga Blimbing Larung Hasil Bumi dalam Ritual Rokat Bumi
BONDOWOSO, INewsBondowoso.id - Guna memohon limpahan rezeki serta keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, ratusan warga Desa Blimbing, Kecamatan Klabang, menggelar upacara adat desa berupa ritual Rokat Bumi Singo Ulung.
Tradisi turun-temurun ini menjadi bagian dari rangkaian bersih desa Blimbing yang ke-534 tahun.
Ritual sakral tersebut diawali dengan pertunjukan sepuluh Singo Ulung yang menampilkan gerakan-gerakan atraktif di hadapan ratusan masyarakat.
Kesenian khas Bondowoso ini merupakan perpaduan antara tarian tradisional dan ritual adat, yang masing-masing Singo Ulung dimainkan oleh dua orang penari.
Singo Ulung digambarkan sebagai sosok singa berbulu putih yang gagah, dibentuk oleh dua pemain yang dibungkus menjadi satu tubuh utuh, menyerupai kesenian barongsai dari Tiongkok.
Namun, Singo Ulung memiliki filosofi dan nilai spiritual tersendiri, karena tarian ini menceritakan tokoh nenek moyang asal Desa Blimbing yang dipercaya sebagai cikal bakal desa.
Dalam prosesi tersebut, warga tampak antusias memberikan sedekah berupa hasil bumi dan makanan kepada para penari Singo Ulung.
Sedekah ini menjadi simbol rasa syukur sekaligus wujud keyakinan masyarakat bahwa berbagi akan mendatangkan keberkahan, rezeki, dan perlindungan dari Yang Maha Kuasa.
Usai pertunjukan seni, acara dilanjutkan dengan prosesi inti Rokat Bumi, yakni doa bersama di tempat yang dianggap keramat bernama Nangger.
Berbagai jenis hasil bumi dibawa masyarakat untuk didoakan bersama sebelum dilarung ke Umbul Air Nangger, sungai yang berada di Desa Blimbing.
Sebelum pelarungan sesaji, doa bersama dipimpin oleh sesepuh adat. Doa tersebut ditujukan untuk mendoakan arwah nenek moyang serta memohon keselamatan, ketentraman, dan limpahan rezeki bagi seluruh warga Desa Blimbing.
Setelah doa selesai, masyarakat secara bergantian melarungkan sesaji hasil bumi ke sungai sebagai simbol pengembalian hasil alam kepada Sang Pencipta.
Kepala Desa Blimbing, Samin, menyampaikan bahwa upacara adat Singo Ulung ini rutin digelar setahun sekali pada pertengahan bulan Sya’ban.
Menurutnya, tradisi ini tidak hanya menjadi bentuk pelestarian budaya leluhur, tetapi juga sarana mempererat kebersamaan dan gotong royong warga.
“Warga dengan sukarela memeriahkan upacara adat ini dengan bersedekah. Kami yakin, dengan banyak berbagi dan menjaga tradisi leluhur, masyarakat akan mendapatkan limpahan rezeki serta keselamatan,” ujarnya.
Ritual Rokat Bumi Singo Ulung pun menjadi bukti kuat bahwa kearifan lokal dan nilai spiritual masih terus dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat Desa Blimbing hingga kini.
Editor : Riski Amirul Ahmad