Pakar Gizi Polije Ungkap Rahasia Olahraga Aman Saat Puasa
JEMBER, iNewsBondowoso.id – Dosen Gizi Klinik Polije, Alinea Dwi Elisanti, memaparkan mekanisme aktivitas fisik selama Ramadan. Puasa memicu metabolic switching yang mengubah penggunaan energi dari karbohidrat menjadi pembakaran lemak.
Tubuh tidak mengalami defisit energi akut meski sedang berpuasa. Penurunan kadar insulin merangsang hormon glukagon memecah lemak menjadi sumber bahan bakar utama tubuh.
"Olahraga saat puasa bukan larangan secara fisiologis, namun kita harus menyesuaikannya berdasarkan prinsip evidence-based practice," ungkap Alinea Dwi Elisanti.
Olahraga intensitas rendah seperti jalan santai atau yoga sangat ideal bagi pelaku puasa. Latihan ini membakar lemak secara efisien tanpa menghabiskan cadangan glikogen yang terbatas.
Alinea melarang masyarakat melakukan olahraga berat seperti lari cepat atau HIIT di siang hari. Aktivitas tersebut membutuhkan glikogen besar dan berisiko tinggi menyebabkan dehidrasi parah.
"Tubuh beralih dari penggunaan glukosa menuju penggunaan lemak sebagai sumber energi utama atau fat-based metabolism," jelas pakar gizi Polije tersebut.
Waktu paling tepat berolahraga adalah 30 hingga 60 menit sebelum momen berbuka puasa. Pemilihan jadwal ini memungkinkan tubuh segera mendapat cairan dan nutrisi setelah sesi latihan.
Masyarakat perlu mengonsumsi protein 1,2 hingga 1,6 gram per kilogram berat badan setiap hari. Nutrisi memadai sangat penting untuk melindungi massa otot selama bulan suci.
"Menjelang berbuka paling kami rekomendasikan karena risiko hipoglikemia minimal dan tubuh bisa segera rehidrasi," tutur Alinea.
Pelaku olahraga harus waspada terhadap tanda bahaya seperti pusing, mual, atau jantung berdebar. Segera hentikan seluruh aktivitas fisik jika gejala tersebut muncul guna mencegah pingsan.
Konsumsi karbohidrat kompleks saat sahur membantu menjaga kestabilan energi dan rasa kenyang. Pengaturan intensitas serta hidrasi yang tepat akan menjaga performa fisik tetap prima.
"Massa otot tetap dapat kita pertahankan asalkan distribusi protein saat sahur dan berbuka tetap terjaga dengan baik," tambahnya.
Editor : Riski Amirul Ahmad